Escargot

bagaimana siput tanah naik kelas dari hama menjadi ikon kuliner

Escargot
I

Bayangkan kita sedang berjalan di kebun tepat setelah hujan turun. Kita melihat makhluk kecil bercangkang, merayap sangat lambat meninggalkan jejak lendir yang mengilap di atas daun tanaman kesayangan kita. Hama. Mengganggu. Menjijikkan. Tapi di belahan dunia lain, orang-orang berpakaian rapi rela duduk di restoran mewah, membayar ratusan ribu hingga jutaan rupiah hanya untuk menyantap makhluk yang sama. Pernahkah kita bertanya-tanya, bagaimana ceritanya seekor hama kebun bisa berevolusi menjadi simbol kemewahan global bernama escargot? Mari kita bedah fenomena psikologis dan sejarah yang aneh ini bersama-sama.

II

Kalau kita mundur jauh ke zaman prasejarah, nenek moyang kita sebenarnya sama sekali tidak pilih-pilih makanan. Siput tanah adalah sumber protein purba yang sangat mudah ditangkap. Tidak perlu tombak beracun atau lari kencang, cukup dipungut dari tanah. Namun, cerita berubah drastis ketika manusia mulai mengenal konsep agrikultur. Siput, yang awalnya adalah camilan gratis, tiba-tiba berubah wujud menjadi musuh nomor satu bagi tanaman para petani.

Secara psikologis, otak kita juga berevolusi untuk melindungi kita. Kita mengembangkan respons jijik yang sangat kuat terhadap hal-hal yang berlendir, lembap, dan merayap di tanah basah, sebagai mekanisme pertahanan alami terhadap patogen dan penyakit. Siput pun terbuang dari daftar menu utama umat manusia. Selama berabad-abad di Eropa, makhluk ini terdegradasi menjadi makanan bertahan hidup, hanya dimakan oleh kaum miskin yang kelaparan di Abad Pertengahan. Lalu, bagaimana makhluk yang dibenci petani dan ditolak mentah-mentah oleh otak kita ini bisa merayap naik ke atas piring perak kaum bangsawan? Ada sebuah rekayasa sosial luar biasa yang terjadi di sini, dan semuanya bermuara pada satu malam yang penuh kepanikan.

III

Kisah kebangkitan siput tanah ini ternyata berpusat pada sebuah manuver diplomatik di Prancis. Mari kita putar waktu ke tahun 1814. Saat itu, Tsar Alexander I dari Rusia datang berkunjung ke Paris. Penasihat diplomasi Prancis, Charles Maurice de Talleyrand, mendapat tugas yang sangat berat. Ia harus menjamu sang Kaisar Rusia dengan sesuatu yang belum pernah dilihatnya seumur hidup. Sesuatu yang akan membuat Prancis terlihat eksotis, tak tertebak, dan superior secara budaya.

Talleyrand kemudian memanggil koki legendanya, Antonin Carême. Di sinilah letak pertaruhan gila itu terjadi. Carême, sang koki jenius yang sering disebut sebagai raja para koki, memutuskan untuk menyajikan siput dari daerah Burgundy. Ya, teman-teman tidak salah baca. Ia berencana menyajikan makanan rakyat jelata pemakan tanah kepada seorang kaisar Rusia yang berkuasa. Jika sang Tsar merasa terhina karena disuguhi hama, habislah karier Carême, dan mungkin hancur pula hubungan diplomasi kedua negara. Pertanyaannya, sihir macam apa yang disiapkan Carême malam itu untuk menipu lidah seorang kaisar? Bagaimana cara ia menyembunyikan identitas asli dan rasa tanah dari sang hama?

IV

Jawabannya ternyata tidak bertumpu pada sihir mistis, melainkan pada kombinasi cerdas antara biologi dasar dan manipulasi kimiawi rasa. Carême memahami betul anatomi siput jenis Helix pomatia asal Burgundy yang ia gunakan. Secara biologis, otot perut siput ini sangat padat karena mereka butuh kekuatan ekstra konstan untuk menyeret rumah cangkangnya ke mana-mana. Otot yang padat ini membuat teksturnya menjadi kenyal seperti karet, dengan profil rasa bawaan yang menyerupai lumpur dan lumut.

Untuk mengakali tekstur alot dan rasa tanah ini, Carême menciptakan sebuah ilusi kuliner tingkat tinggi. Ia membanjiri daging siput tersebut dengan bawang putih, peterseli, dan mentega. Ketiga bahan ini bekerja layaknya pasukan khusus. Bawang putih bertugas mematikan sisa aroma tanah yang menempel. Peterseli memberikan ilusi kesegaran herbal yang menipu otak. Dan mentega... nah, di sinilah sains bekerja paling keras. Secara kimiawi, lemak hewani dalam mentega adalah pelarut molekul rasa yang paling sempurna. Daging siput yang berpori bertindak layaknya spons biologi, menyerap seluruh kemewahan lemak dan rempah tersebut ke dalam sel-selnya.

Malam itu, Tsar Alexander I menyantapnya. Beliau terdiam, lalu terpesona. Sang kaisar bahkan secara pribadi menamai hidangan itu escargot de Bourgogne. Sejak detik itu, berkat stempel persetujuan dari penguasa tertinggi Rusia, persepsi masyarakat elit Eropa terbalik 180 derajat. Hama kebun remeh itu resmi diangkat menjadi hidangan kaum aristokrat.

V

Kisah perjalanan escargot ini sebenarnya memberi kita lebih dari sekadar sejarah resep makanan Prancis. Ini adalah studi kasus psikologis yang luar biasa tentang bagaimana kita, sebagai manusia, memberikan nilai pada suatu benda. Seringkali, batas antara "hama yang menjijikkan" dan "kemewahan tiada tara" bukanlah terletak pada benda itu sendiri, melainkan pada konteks, sedikit rekayasa persepsi, dan tentu saja, lumuran mentega yang banyak.

Ketika kita menyadari hal ini, kita mungkin akan mulai melihat dunia di sekitar kita dengan kacamata yang sedikit berbeda. Sesuatu atau bahkan seseorang yang hari ini mungkin dianggap remeh, tidak berharga, atau dipinggirkan, bisa jadi hanya sedang menunggu racikan "koki" dan momen yang tepat untuk memunculkan potensi terbesarnya. Jadi, lain kali teman-teman melihat seekor siput melintas lambat di halaman rumah sehabis hujan, jangan buru-buru merasa jijik. Beri dia jalan sedikit. Siapa tahu, dia sedang dalam perjalanan panjang menuju restoran bintang lima.